Beranda BUDAYA Tarian Seudati, Dakwah yang Tersirat

Tarian Seudati, Dakwah yang Tersirat

0
Pengurus Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh, Ustazah Sarah Ulfah

Hariannanggroe.com – SEUDATI adalah tarian khas yang berasal dari daerah Aceh yang dikenal memadukan dua jenis kesenian, yaitu seni tari dan sastra.

Syair-syair yang dilantunkan dalam setiap gerakan tarian Seudati adalah bentuk seni sastra yang tercermin dari tarian tersebut.

Tarian Seudati dimainkan oleh sekelompok laki-laki yang berjumlah delapan hingga sepuluh orang dan pada setiap kelempoknya, dua orang menjadi pelantun syair yang menemani para penari dalam memainkan gerakannya.

Pelantun syair tersebut dinamakan dengan Aneuk dhik atau Aneuk syahi.

Pengurus Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh, Ustazah Sarah Ulfah, mengatakan, pada masa lalu, tarian Seudati berfungsi sebagai tarian kepahlawanan yang dilaksanakan untuk pelepasan pasukan tentara yang hendak berangkat ke medan perang untuk melawan musuh.

“Tak hanya pelepasan, tarian Seudati juga berfungsi sebagai penyambutan para pasukan yang kembali dari medan dengan membawa pulang kemenangan,” ujar Ustazah Sarah Ulfah dikutip dari aceh.tribunnews.com, Jumat (23/9/2022)

Namun, tambahnya, dikalangan masyarakat saat ini tarian Seudati berfungsi sebagai hiburan di kalangan masyarakat.

Tarian tersebut juga berfungsi menjalankan tradisi pada kegiatan-kegiatan tertentu yang masih sangat diminati oleh masyarakat.

Tarian Seudati ini juga biasa dijadikan media oleh masyarakat untuk kegiatan pengumpulan dana sosial kemanusiaan.

Namun seiring berkembangnya zaman, tarian Seudati mengalami pergeseran secara fungsional.

Ia mengartikan bahwa dahulunya tarian Seudati berfungsi sebagai pelestarian adat dalam berbagai kegiatan, kini fungsi tarian Seudati lebih banyak kita temukan sebagai pelengkap pada acara atau upacara tertentu.

“Contohnya pada penyambutan hari-hari besar nasional ataupun hari besar lokal.

Biasanya seni tari Seudati pada kegiatan ini berfungsi sebagai pertunjukan untuk kelengkapan agenda acara tersebut,” terang alumni Ponpes Muslimat Samalanga, Bireuen ini.

Tak hanya itu, kata dia, tarian Seudati saat ini juga digunakan dalam berbagai penyambutan tamu-tamu penting yang berasal dari luar daerah Aceh yang bertujuan untuk memperkenalkan budaya Aceh sekaligus sebagai bentuk penghormatan dan persembahan hiburan.

Tarian Seudati tidak hanya sekedar hiburan maupun alat pelengkap acara-acara tertentu, melainkan banyak menyimpan nilai-nilai dakwah didalamnya.

“Nilai dakwah yang pertama dapat kita lihat dari nama nya sendiri yaitu Seudati, itu dari bahasa Arab yaitu syahadah, artinya pengakuan,” ujarnya.

Dalam hal ini, pengakuan yang dimaksud adalah pengakuan terhadap Keesaan Allah SWT dan Kerasulan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah SWT.

Penyematan istilah Seudati untuk nama tarian ini mengandung nilai dakwah pada bidang akidah Islam.

Tidak hanya dari bacaan-bacaan lagu yang dilantunkan oleh tarian tersebut, melainkan nilai dakwah juga terkandung dalam gerakan-gerakannya

Dalam tarian Seudati, semua gerakan penari harus seiirama dengan senandung dari Aneuk dhik atau Aneuk syahi yang bermakna bahwa masyarakat harus patuh pada pimpinan yang telah mereka percayakan.

Syair-syair yang dilantunkan Aneuk syahi dalam mengiringi setiap gerakan adalah pesan dakwah yang dapat didengar dan dirasakan langsung oleh masyarakat ataupun penonton.

Isi syair tersebut mengandung ajakan bagi penonton untuk lebih dekat dengan agama Islam dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Oleh karena itu, tema syair Seudati tidak akan terlepas dari nilai-nilai Islam di berbagai aspek kehidupan.

“Menjaga dan melestarikan seni budaya Aceh merupakan tugas kita semua agar identitas Aceh tidak hilang dan tentunya meminimalisir fenomena merosotnya moral dan budi pekerti yang disebabkan oleh perkembangan global yang begitu cepat dan tak terbendung,” pungkasnya.

Berita dan informasi selengkapnya di Hariannanggroe.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here